PPATK membekukan jutaan rekening karena dana bansos dipakai judol. Temuan ini mengejutkan publik karena dana bantuan justru digunakan untuk aktivitas ilegal. Lebih dari 10 juta rekening di bekukan karena dana bansos di pakai judol dan aktivitas menyimpang lainnya. Langkah ini di lakukan demi memastikan bantuan benar-benar di terima oleh masyarakat yang berhak.
“Kami sudah membekukan lebih dari 10 juta rekening dengan total saldo lebih dari Rp2 triliun,” ujar Kepala PPATK Ivan Yustiavandana, Jumat (4/7/2025).
PPATK bekerja sama erat dengan Kementerian Sosial (Kemensos) dalam menelusuri dan mengawasi aliran dana bansos. Salah satu temuan paling mencolok adalah banyaknya rekening dengan saldo mencurigakan, tidak aktif dalam waktu lama, atau di gunakan untuk hal-hal yang tidak relevan seperti judi online (judol).
Kasus ini menyadarkan publik bahwa sistem penyaluran bantuan sosial masih memiliki celah yang bisa di salahgunakan. Penegakan dan pengawasan jadi hal mutlak jika bansos ingin benar-benar bermanfaat bagi kelompok yang membutuhkan.
Baca Juga : Juari Curi Motor untuk Judol, Ditangkap Polisi Lubuklinggau
10 Juta Rekening Bansos Dibekukan, Saldo di Atas Rp50 Juta
Menurut PPATK, sebagian besar rekening yang di bekukan memiliki karakteristik mencurigakan. Beberapa tidak aktif bertahun-tahun, sebagian lainnya justru memiliki saldo lebih dari Rp50 juta, padahal seharusnya di tujukan untuk masyarakat prasejahtera.
“Rekening yang tidak di pakai dalam waktu lama dan menyimpan saldo tinggi bukan ciri penerima bansos yang tepat,” jelas Ivan.
Yang lebih mengejutkan, dalam satu bank saja di temukan lebih dari 1 juta rekening dengan total saldo lebih dari Rp2 triliun. Sebagian dari dana tersebut di lacak dan di ketahui di gunakan untuk bermain judi online jenis slot.
PPATK menyatakan bahwa pembekuan ini bukan hanya soal administrasi, tapi bentuk penindakan terhadap penyimpangan dalam sistem bansos. Penyaluran bansos harus tepat sasaran, bukan justru menjadi dana pasif atau di pakai untuk keperluan ilegal.
Langkah ini mendapat dukungan penuh dari Kemensos, yang sedang memperbaiki sistem validasi penerima bansos agar tidak lagi terjadi tumpang tindih atau penyelewengan penggunaan dana.
Dana Bansos Dipakai Judol, Banyak Rekening Tak Layak
Salah satu temuan paling di sorot adalah penggunaan dana bansos di pakai judol. Beberapa rekening milik penerima tercatat melakukan transaksi ke situs judi online, menunjukkan bahwa dana bantuan di pakai untuk aktivitas ilegal.
“Kami temukan dana bansos mengalir ke akun game dan situs taruhan online,” ujar Ivan.
Fakta ini memunculkan kekhawatiran bahwa penerima bansos tidak benar-benar membutuhkan bantuan, melainkan justru memanfaatkannya untuk hiburan yang tidak produktif. Dalam banyak kasus, rekening yang tercatat pasif selama bertahun-tahun mendadak aktif untuk transaksi judol.
PPATK menilai bahwa ketepatan sasaran bansos bukan hanya soal nama dan alamat penerima, tapi juga soal perilaku dan penggunaan dana. Jika dana yang seharusnya untuk memenuhi kebutuhan pokok di gunakan untuk taruhan digital, itu bukan sekadar kelalaian tapi pelanggaran serius.
Oleh karena itu, langkah pembekuan ini akan di susul dengan proses klarifikasi dan investigasi menyeluruh terhadap pemilik rekening yang di bekukan.
PPATK & Kemensos Tindak Rekening Bansos yang Dipakai Judol
Dalam mengatasi persoalan ini, PPATK tidak bekerja sendiri. Lembaga ini menggandeng Kementerian Sosial untuk memperkuat sistem pengawasan penyaluran bantuan sosial. Tujuannya jelas: menutup celah bagi penerima yang tidak layak dan menghindari penyimpangan dana.
“Kami terus memperkuat kerja sama dengan Kemensos demi menjaga integritas program bansos,” jelas Ivan.
Ke depan, Kemensos akan lebih selektif dalam mendata penerima, termasuk menggunakan pendekatan berbasis data dan verifikasi elektronik. Semua rekening akan di pantau, dan jika di temukan transaksi mencurigakan, maka bantuan bisa dihentikan.
PPATK juga merekomendasikan agar bantuan sosial tidak hanya berbasis rekening, tapi juga di lengkapi dengan pelatihan literasi keuangan agar dana tidak di salahgunakan.
Kerja sama ini menjadi langkah awal untuk memastikan program bansos benar-benar bermanfaat dan tidak menjadi sumber masalah baru di tengah masyarakat.
Bansos Bukan untuk Judol: Refleksi dan Pengawasan Lebih Ketat
Kasus ini memberikan pelajaran penting: sistem bansos yang longgar bisa menjadi ladang penyalahgunaan. Ketika dana bansos di pakai judol, maka program bantuan sosial kehilangan makna utamanya—yaitu menolong mereka yang benar-benar membutuhkan.
“Dana untuk sembako malah habis di slot. Ini ironis,” komentar netizen di media sosial.
Pemerintah perlu memperkuat literasi digital dan keuangan di masyarakat, agar dana bansos tidak lagi di salahgunakan untuk hal-hal yang kontra-produktif. Sanksi bagi penerima tidak layak juga harus di tegakkan agar tidak menimbulkan efek domino.
Kita semua bertanggung jawab dalam menjaga ketepatan sasaran bansos. Pemerintah, masyarakat, dan lembaga pengawas harus bersinergi agar setiap rupiah bantuan benar-benar sampai ke tangan yang tepat.